AWAL SEBUAH KEHIDUPAN 04

AWAL SEBUAH KEHIDUPAN 04

BERTUMBUH KEMESRAAN

Setelah anak yang terhilang itu sadar akan kesalahannya, timbullah sebuah keinginan untuk kembali kepada bapanya. Ia ingin kembali berada di depat bapanya. Ia sadar bahwa ia tak lagi layak untuk disebut sebagai anak bapanya, ia rela menjadi salah seorang hamba bapanya asal ia tidak lagi jauh dari bapanya. Ia ingin selalu berada dalam jangkauan bapanya. Ia mengambil sebuah keputusan untuk meninggalkan keadaannya yang penuh dengan penderitaan dan berangkat pulang, kembali ke rumah bapanya.

Saya membaca sebuah surat yang ditulis oleh seorang bapa kepada anak laki-lakinya:

Anakku yang kukasihi,

Aku menulis surat ini dengan lambat karena aku tahu kau tidak bisa membaca dengan cepat. Sekarang kami tidak lagi tinggal di rumah yang dulu ketika kau pergi dari rumah. Ayahmu membaca di koran bahwa hampir semua kecelakaan terjadi dalam jarak 30 km dari rumah, jadi kami pindah kira-kira 30 km jauhnya dari rumah yang lama. Ayah tidak dapat memberitahumu alamat rumah yang baru karena penghuni yang lama mengambil nomor rumahnya untuk dipakai bagi rumah mereka yang baru sehingga mereka tidak usah mengubah alamat tempat tinggalnya.

Tempat yang baru ini sungguh menyenangkan. Bahkan ada mesin cuci, tepat di atas toilet. Ayah tidak yakin betul apakah masih jalan atau tidak. Minggu lalu, ayah memasukkan 3 kemeja, kemudian menarik rantainya dan sejak itu kemeja itu menghilang. (Si ayah berpikir, tangki air di atas toilet kuno itu sebuah mesin cuci. Untuk memblias, ada rantai yang harus ditarik supaya air dalam tangki mengalir turun membersihkan toilet).

Cuaca disini tidaklah terlalu buruk. Minggu lalu turun hujan 2 kali. Yang pertama, hujan berlangsung selama 3 hari dan yang kedua, 4 hari. Mantal yang kau ingin ayah kirimkan, kata bibimu, terlalu berat untuk dikirim lewat surat, apalagi dengan kancing-kancing logamnya, jadi kami mempereteli kancingnya dan kami taruh dalam kantong mantelnya. Ayahmu mendapat pekerjaan baru dengan 500 orang ada di bawahnya. Ayahmu bekerja sebagai pemotong rumput di perkuburan. Kakak perempuanmu melahirkan bayinya pagi ini. Ayah belum memeriksanya apakah anak laki atau perempuan, jadi ayah belum tahu kau jadi paman atau bibi.

Pamanmu, Tom, jatuh ke dalam sumur dekat rumah. Beberapa orang mencoba menariknya keatas, tetapi ia mempertahankan diri dengan gagah berani dan mati tenggelam. Sahabatmu, David, sudah tiada. Ia meninggal memenuhi keinginan ayahnya yang terakhir. Ayahnya ingin di kubur di laut bila meninggal. Temanmu meninggal saat sedang menggali kuburan untuk ayahnya. Tak ada lagi berita saat ini. Tidak ada yang banyak terjadi.

Ayahmu.

 

Kira-kira, apakah saudara bangga memiliki bapa yang seperti ini dan selalu memiliki kerinduan akan kehadirannya dalam hati dan hidup saudara? Apakah saudara selalu memiliki kerinduan untuk berkomunikasi dengannya? Cape….deh!!!! Memang tidak semua bapa yang diciptakan Tuhan itu sempuna. Makanya ada kata-kata bijak yang mengatakan, “Lebih mudah bagi seorang bapa untuk memiliki anak-anak, daripada anak-anak memiliki seorang bapa sejati” (Paus Yohanes ke 23). Untuk memiliki seorang anak, cukup dengan hubungan biologis antara sepasang manusia yang normal yaitu lelaki dan perempuan. Namun, untuk menjadi ayah yang dibanggakan dan dirindukan oleh seorang anak, Tuhan telah merancangnya dan bapa-bapa harus berusaha sekuat tenaga menjadi seorang bapa yang dirancang oleh Tuhan; Seorang bapa yang akan membuat anaknya bangga dan rindu akan kehadirannya; Seorang bapa yang membuat anaknya selalu ingin menjalin kemesraan dalam sebuah komunikasi dan kebersamaan. Sebuah artikel saya baca tentang penciptaan seorang ayah dalam sebuah cerita.

Ketika Tuhan Menciptakan Bapa

By: Erma Bombeck

Ketika Tuhan sedang menciptakan bapa, Ia mulai dengan sebuah rangka yang tinggi. Seorang malaikat di dekatnya bertanya, “Bapa model apa itu? Bila Kau akan membuat anak-anak kecil sangat dengan dengan bumi, mengapa Kau ciptakan bapa sedemikian tinggi? Ia tidak akan dapat bermain kelereng tanpa membungkuk atau bahkan mencium anaknya tanpa membungkuk?”

Tuhan tersenyum dan berkata, “Ya, tapi bila Aku membuat bapa seukuran anak kecil, kepada siapa anak-anak harus melihat ketika ia menengok ke atas?”

Ketika Tuhan membuat tangan bapa, tangan itu berukuran besar. Kembali malaikat menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tangan yang besar tak akan dapat mengencangkan pengikat popok, memijit tombol kecil, atau memasang karet gelang pada buntut kuda rambut atau mengambil benda-benda kecil yang menempel.”

Tuhan kembali tersenyum dan berkata, “Aku tahu, tangan itu cukup besar untuk memegang apa saja yang dikeluarkan oleh seorang anak kecil dari kantongnya, tetapi cukup kecil untuk meraba wajah seorang anak dengan wajahnya.” Kemudian Tuhan mencetak kaki yang ramping dan panjang dan bahu yang lebar.

“Apakah Kau sadar, Kau telah membuat seorang bapa tanpa pangkuan?”

Tuhan berkata, “Seorang ibu harus memiliki pangkuan. Seorang ayah harus memiliki bahu yang kuat untuk menarik kereta salju, untuk menjaga keseimbangan anaknya di atas sepeda, atau untuk menahan kepala anak yang ngantuk ketika pulang ke rumah dari tontonan sirkus.” Ketika Tuhan sedang dalam proses menciptakan kaki terbesar yang pernah dilihat manusia, malaikat tidak dapat menahan kesabarannya. “Itu tidak adil. Mungkinkah dengan kaki itu ia turun dengan cepat dari tempat tidur di pagi hari ketika seorang bayi menangis? Atau berjalan di kerumunan pesta ulang tahun tanpa menginjak kaki satu atau dua dua tamu?”

Kembali Tuhan tersenyum dan berkata, “Kamu nanti akan lihat, bagaimana kaki-kaki itu bekerja. Mereka akan menopang seorang anak kecil yang ingin duduk di pundaknya atau mengusir tikus dari tenda di musim panas.” Tuhan bekerja sepanjang malam, memberi bapa beberapa kata untuk diucapkan tetapi dengan suara penuh wibawa; mata yang dapat melihat apa saja, namun tetap tenang dan penuh toleransi. Akhirnya, ia menambahkan airmata. Kemudian Ia berpaling kepada malaikat dan berkata, “Sekarang, apakah kau puas bahwa bapa jgua punya rasa sayang seperti seorang ibu?” malaikat pun terdiam, tak berkata apa-apa lagi.

Bila TUHan sanggung merancang dan menciptakan bapa yang seperti ini, tentu Sang Pencipta sendiri memiliki karakter dan kemampuan yang lebih hebat lagi. Saya teringat ketika anak-anak saya masih kecil, setiap mereka menghadapi kesulitan dalam masalah pekerjaan rumah dari guru di sekolah, mereka datang kepada saya karena mereka memiliki konsep bahwa bapanya tahu banyak hal. Mereka yakin, bapanya selalu memiliki solusi atau jawaban bagi setiap soal yang mereka hadapi. Bila seorang bapa di dunia ini begitu mempedulikan anak-anaknya, Bapa kita si Sorga lebih lagi. Ia adalah seorang Bapa yang luar biasa. Bila bapa di dunia sanggup memberikan roti, bukan batu atau ikan kepada ular kepada anaknya, maka Bapa kita di Sorga pasti lebih baik lagi. “Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7: 9-11.

Oleh sebab itu, jalinlah kemesraan dengan Dia. Alangkah indahnya ketika fajar mulai menembus kegelapan, kita menyapa Dia dengan kata-kata, “Bapa kami yang di Sorga”. Kita sadar bahwa Ia ada, kita ingin selalu menyapa Dia dalam sebuah kemesraan yang indah. Kemesraan ini haruslah dilandasi dengan sebuah kerinduan untuk sebuah komunikasi bukan karena kita hanya menginginkan sesuatu dari Dia. Seorang pendeta bepergian ke luar kota dan bermalam di rumah satu keluarga yang kelihatannya luar biasa dalam masalah keagamaan. Sebelum tidur, ia melihat anak-anak melakukan ritual doa bersama-sama. Sebelum mereka menuju kamar tidur masing-masing, sang pendeta bertanya apakah mereka selalu berdoa setiap malam sebelum tidur. Jawaban mereka sangatlah mengejutkan sang pendeta. “Oh, tidak!!! Kami hanya berdoa kalau takut saja.”

Kita harus membangun sebuah kemesraan dengan Bapa di sorga, karena kita memang merindukan Dia setiap saat. Dialah bagian dari hidup kita yang tak tergantikan oleh apapun di dunia ini. Dalam kemesraan itulah kita dapat mencurahkan apa saja isi hati kita kepadaNya. Dalam kemesraan itu juga kita bisa berbicara menyapa Dia setiap saat kita rindu kepadaNya. Kita tidak dibatasi waktu berapa lama kita harus berbicara atau bagaimana harus memulai dalam komunikasi.  Hanya bicara saja. Bahkan tanpa kata, dalam keheningan, kita merasakan kebersamaan yang luar biasa.