AWAL SEBUAH KEHIDUPAN 05

AWAL SEBUAH KEHIDUPAN 05

BERDAMPAK KEMENANGAN

Anak seorang konglomerat merengek-rengek kepada bapanya agar ia dapat diajari teori bisnis yang hebat untuk meneruskan bisnis bapanya. Namun, bapanya menolak dan menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan lain, apa saja asal jangan terjun di dunia bisnis. Anaknya tak mengerti mengapa bapanya melarang ia terjun di bisnis padahal sang bapa tidak memiliki generasi penerus selain dari dirinya. Oleh karena itu, ia terus memaksa bapanya mengajarinya teori bisnis yang hebat agar sukses mengembangkan bisnis bapanya. Ayahnya menjelaskan bahwa bisnis itu dikenal dengan 3K, yaitu Kotor, Kejam dan Kasar. Bisnis itu kotor karena penuh dengan tipu muslihat untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Bisnis itu kejam, karena harus tega untuk membunuh bisnis orang lain agar bisnis miliknya hidup dan berkuasa. Bisnis itu kasar, karena segala cara dihalalkan untuk memperoleh yang diinginkan. Oleh karena itu nasihatnya, “Jauhilah dunia bisnis, yang sering membuat orang jadi jahat atau stress.” Anaknya tidak mau mengerti dan terus membujuk sang ayah untuk mengijinkannya menjadi bisnisman. Setelah didesak dan berargumentasi dengan hebat, akhirnya sang bapa meluluskan permintaan sang anak untuk mengenal teori bisnis.

Sang bapa mengajak sang anak untuk mengikutinya di lantai 2 dari gedung tempat bisnisnya berkantor. Walaupun tidak mengerti mengapa musti naik ke lantai atas, sang anak mengikutinya dari belakang. Kemudian ayahnya menyuruh anaknya untuk berdiri dekat jendela dan me lihat keluar ke halaman parkir.

Kata sang bapa, “Ayah akan menghitung sampai 3, saat itulah kau harus melompat keluar jendela.” Anak yang semakin bingung bertanya kepada bapanya, apa hubungan antara teori bisnis dan lompatan keluar jendela yang sangat berbahaya.

Jawab sang bapa, “Bukankah kau ingin belajar teori bisnis? Kenapa sekarang kau banyak bertanya? Sekarang lakukan apa saja yang ayah perintahkan kepadamu. Jangan membantah lagi.”

Ketika sang ayah menghitung sampai 3, dengan terpaksa sang anak melompat keluar jendela dan kemudian jatuh di halaman parkir dengan kaki patah dan ia pun meraung kesakitan.

Sang bapa yang kemudian bergegas menuruni tanggal menyusul anaknya, berkata, “Inilah teori bisnis yang paling penting, yang harus kau perhatikan. DALAM BISNIS, JANGAN PERNAH PERCAYA KEPADA SIAPAPUN TERMASUK BAPAMU!!”

Banyak bapa di dunia ini yang tidak dapat menjadi sandaran dan harapan bagi seorang anak untuk tumbuh kuat di tengah badai. Banyak anak yang ditinggalkan atau ditelantarkan oleh bapanya sehingga bertumbuh menjadi anak yang bermasalah dalam lingkungan sekolah atau sosial. Banyak anak yang tidak mengerti siapa bapanya dan tidak tahu kemana ia harus datang ketika masalah menghadang di depan jalan hidupnya. Coba renungkan lirik Nobody’s Child yang ditulis oleh Cy Coben dan Mel Foree yang kemudian dinyanyikan oleh banyak penyanyi tenar seperti Karen Young atau Sketer Davis, bahkan group The Beatles.

Nobody’s Child

(Bukan Anak siapa-siapa)

Pada suatu hari aku berjalan perlahan melewati sebuah rumah yatim piatu

Aku berhenti tertegun memperhatikan anak-anak yang sedang bermain

Seorang anak berdiri sendirian dan ketika kutanya mengapa

Ia berbalik dengan mata yang tak dapat melihat dan mulai menangis.

Orang-orang datang untuk mengangkat anak-anak menjadi anaknya

Namun, seolah-olah mereka hanya melewatiku

Dan meninggalkanku sendirian

Aku tahu mereka ingin mengangkatku, namun ketika melihat aku buta

Mereka mengambil yang lain dan meninggalkanku sendirian

Reff: Bukan anak siapa-siapa, bukan anak siapa-siapa

Sama seperti bunga yang tumbuh liar

Tak ada ciuman kasih sayang mama dan senyuman papa

Tak ada yang menginginkanku, aku bukan anak siapa-siapa

Tak ada tangan mama memelukku, menenangkanku ketika ku menangis

Kadang ku merasa sepi dan ingin mati

Untuk berjalan di Sorga tempat semua yang buat dapat melihat

Sama seperti anak yang lain, ada sebuah keluarga untukku

 

Dapatkah saudara membayangkan dan merasakan jeritan seorang anak yang tidak berdaya sebab tidak ada orang tua, bapa atau ibu tempat mereka mengadu dan bermanja. Betapa putus asanya seorang anak yang merasa terbuang, tanpa kasih sayang. Ia merasa sepi dan keinginannya hanya mati. Ketika anak-anak saya masih kecil dan duduk di Sekolah Dasar, saya mengajar mereka untuk belajar mengatur uang sendiri dengan memberi uang jajan setiap hari sabtu sebanyak 10.000 rupiah untuk minggu berikutnya. Jadi dalam sebulan, mereka menerima uang jajan sebanyak 40.000 rupiah. Pada suatu hari, anak saya yang perempuan, bercerita kepada saya setelah pulang dari sekolah.

“Dad, tadi di sekolah, ibu guru bercerita tentang banyaknya rumah ibadah di Jawa Timur yang dibakar massa. Ibu guru bertanya siapa yang mau memberi persembahan agar rumah ibadah yang rusak dapat segera diperbaiki. Aku memberikan uang sebanyak 20.000 rupiah.” Kata anak saya.

“Bagus, kamu sudah belajar memberi dari hasil tabungan kamu sendiri.” Jawab saya.

“Dad, bolehkan aku memberikan lagi sisa tabunganku sebanyak 20.000 rupiah untuk perbaikan rumah ibadah?” tanya anak saya lagi.

“Terserah kamu, nak. Uang yang ada di tabunganmu adalah milikmu. Kau punya hak untuk menggunakannya sesuai dengan keinginanmu. Kau boleh menghabiskan uang itu buat jajan atau untuk membantu renovasi rumah ibadah. Masalahnya kalau kamu tak punya uang lagi, gimana?” tanya saya.

“Ah, itu gampang dada.” Jawabnya dengan tenang.

“Gampang gimana? Kalau tak punya uang mau jajan gimana?” saya bertanya lagi.

“Kan masih ada daddy. Tinggal minta lagi aja.” Jawabnya dengan polos.

Cobalah renungkan, dialog antara saya dan anak saya. Anak saya begitu sangat tidak kuatir akan keadaan yang tidak akan punya uang tabungan lagi karena seluruh tabungannya dipersembahkan untuk membantu renovasi rumah ibadah di tempat yang dia tidak tahu. Ia berpikir selama masih ada bapanya, maka dalam hidup tak ada yang perlu dikuatirkan. Ia mempunyai keyakinan dan kekuatan yang luar biasa. Mampukah kita hidup seperti itu? Ingat ada Allah di atas yang mau menjadi Bapa kita. Ia peduli dengan keadaan kita. Saudara dapat meraih kemenangan atas ketakutan dan kekuatiran dalam hidup ini bila bergantung kepadaNya sebab Dia akan menyediakan segala keperluanmu dengan limpah.