AWAL SEBUAH KEBERANIAN

AWAL SEBUAH KEBERANIAN

 

“What’s is a name? That which we call a rose, by any other name would smell as sweet.”

(Apa artinya sebuah  nama? Yang kita namakan bunga mawar, disebut apapun akan wangi semerbak)

Itulah penggalan kata-kata yang diucapkan oleh seorang Juliet kepada kekasihnya Romeo dalam kisah drama klasik yang ditulis oleh penyair, aktor dan penulis drama Inggris terkenal, William Shakespeare (1564-1616). Ucapan itu muncul dengan latar belakang percintaan antara seorang pemuda bernama Romeo Montague dan seorang dara bernama Juliet Capulet. Namun, percintaan itu terhalang oleh permusuhan yang ada di antara keluarga keduanya. Juliet mengajak Romeo untuk mengakui keluarga dan namanya sendiri. Kalau Romeo mau bersumpah, maka Juliet pun tidak akan memakai nama Capulet lagi. Bagi Juliet, nama itu sesuatu yang tidak ada artinya. Nama Montague bukanlah tangan, kaki, wajah atau bagian apapun dari tubuh. Nama itu hanya sesuatu yang melekat pada diri seorang anak manusia. Juliet hanyalah mencintai diri Romeo bukan namanya. Baginya mawar tetap wangi, dengan nama apapun ia disebut.

Bagi manusia mungkin saja hal itu dapat terjadi. Namun, tidak bagi Allah karena nama Allah tak dapat dipisahkan dari pribadi, karakter atau perbuatanNya. Dalam kitab Keluaran pasal 3, Musa berjumpa dengan Allah di semak belukar di padang gurun dan diberi tugas untuk memimpin pembebasan bangsa Israel. Ia bertanya tentang bagaimana jika bangsa Israel menanyakan nama Allah yang menyuruhnya. Allah menjawab, “AKU ADALAH AKU” yang dalam bahasa Ibrani ditulis “EHEYEH ASHER EHEYEH” yang dapat diterjemahkan sebagai “I WILL BE THAT I WILL BE”.

Dalam kita Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Yunani, Septuaginta, menurut Clark’s Commentary, kata-kata “AKU ADALAH AKU” diterjemahkan sebagai I AM HE WHO EXISTS, AKU ADALAH DIA YANG SELALU ADA, dan dalam versi Arab disadur menjadi THE ETERNAL, WHO PASSES NOT AWAY (Yang kekal, Yang tak akan berakhir).

Dengan nama seperti itulah (yang melahirkan kata Yahweh), Allah memberitahu Musa bahwa sebagaimana Dia telah ADA kepada nenek moyangnya yaitu Abraham, Ishak dan Yakub, demikain juga Dia akan selalu ADA kepada musa dan bangsanya, Israel (Keluaran 3: 15).

Dari kata dan tasfirannya dapatlah disimpulkan bahwa Allah itu ada dengan sendirinya dan akan sellau ada dalam kekekalan. Nama Allah yang harus diberitakan oleh Musa kepada bangsa Israel menunjukkan eksistensi, pribadi atau karakter Allah yang tidak pernah berubah, dia adalah YANG ADA, YANG SUDAH ADA DAN AKAN ADA SELAMANYA. Jadi mana mungkin dapat diubah sesukanya. Tidak ada yang seperti Dia dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Dialah perlindungan, pengharapan, dan pertolongan yang abadi.

Nama Allah tidak sama dengan nama apapun dalam dunia ini. Itu sebabnya Yesus mengajar dalam Doa Bapa Kami, “Dikuduskanlah NamaMu.” Kata dikuduskan adalah kata kerja hagiazesthai yang berhubungan dengan kata keterangan hagiazo. Kata hagiazo berasal dari kata a yang berarti kata penyangkalan tidak atau bukan dan kata ge yang berarti bumi.

Jadi kata kudus dapat berarti segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan bumi atau dunia. Jadi Bait Allah disebut kudus karena penggunaannya bukan untuk tujuan duniawi. Hal yang sama berlaku untuk iman yang kudus, artinya panggilan dan pekerjaannya tidak berhubungan dengan hal-hal duniawi. Dengan demikian, kata ‘dikuduskanlah NamaMu’ mengajarkan prinsip bahwa kita harus menghormati nama Allah yang berbeda dengan nama-nama yang ada di bumi.

Itu sebabnya dalam 10 Perintah Tuhan, dikatakan dalam perintah yang ketiga, “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” (Keluaran 20: 7). Awal sebuah kemenangan terjadi pada wakti kita mampu melihat dan mengerti hakekat atau makna nama Allah yang menunjukkan keberadaan, karakter dan perbuatan Allah yang besar.

Itu sebabnya dalam Mazmur 9: 11, Daud menyatakan, “Orang yang mengenal namaMu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.” Kata mengenal adalah terjemahan kata yada yang berarti mengetahui secara intim, seperti keintiman antara suami dan istri. Sedangkan kata percaya atau batach memiliki arti bersandar. Mari kita mengenal nama Allah dengan benar agar dapat memuliakan Dia, percaya dan bersandar kepadaNya untuk meraih kemenangan dalam hidup.