AWAL SEBUAH KEBAHAGIAAN 03a

AWAL SEBUAH KEBAHAGIAAN 03a

Setiap pagi, ketika fajar mulai muncul di ufuk Timur, suasana masih sunyi dan gelap, saat kebanyakan orang masih tertidur lelap, selalu lewat di depan rumah saya para pemulung rongsokan yang sudah harus meninggalkan tempat tinggalnya sejak ayam berkokok di pagi buta. Dengan kantong plastik besar di pundaknya dan sebuah besi pengait di tangannya, atau kadang-kadang dengan gerobak yang ditariknya, mereka menelusuri jalan demi jalan untuk mencari sesuatu yang masih bisa diambil dan dijual. Kotak demi kotak sampah diobrak-abrik untuk mengambil kantong plastik, kardus bekas dan potongan besi atau plastik yang masih bisa dijual. Pekerjaan itu dilakukan setiap hari, dari pagi sampai petang, tanpa mengenal rasa lelah atau jenuh. Berapa banyak yang dapa mereka hasilkan dari ‘pekerjaan kotor’ yang harus mereka bayar dengan kesehatan dan nyawanya itu? Yang mereka hasilkan, paling-paling hanyalah cukup untuk mengisi perut isteri dan anak-anaknya.

Mereka masih tetap tinggal di gubuk bahkan ada yang tinggal dalam rumah berjalan alias gerobak sampah yang mereka tarik atau dorong setiap hari. Sampai kapan? Tidak pernah ada yang pensiun dari pekerjaan itu sebab tidak tidak ada yang akan menjamin hidup mereka di masa tua ketika sakit dan sudah tidak berdaya karena dimakan usia. Mungkin dalam hati kecilnya mereka juga sudah merasa jenuh dengan pekerjaan yang seperti itu. Tak pernah ada hari untuk istirahat sebab penghasilan hari ini akan habis di makan hari ini. Bahkan, kalau mereka sakit, pilihannya adalah menunggu belas kasihan orang atau sekarang meregang nyawa. Itulah titik akhir dari perjalanan mencarian mereka di muka bumi ini.

Cobalah kita renungkan perjalanan percarian para pemulung itu. Bukankah itu dilakukan oleh semua orang di dunia ini dengan skala atau ukuran yang berbeda-beda? Orang-orang yang tidak berpendidikan, tanpa rasa didik, mencari sesuatu di kotak sampah atau di tempat pembuangan sampah terakhir, di tengah bau yang menyengat dan jutaan bakteri yang mengancam kesehatan. Tidak jarang, ada sarjana yang putus asa karena tidak mendapatkan pekerjaan yang terhormat di belakang meja juga melakukan hal yang sama menjadi pemulung. Orang yang berpendidikan mencari sesuatu untuk hidup di dalam gedung-gedung perkantoran. Tidak jarang merekapun mengais-ngais rejeki dari satu kantor ke kantor lain, bak kutu loncat, mencari sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak. Kaum bisnisman atau pengusaha pun melakukan hal yang sama dalam ukuran yang lebih besar lagi. Mereka bergerak dari satu lahan ke lahan yang lain tanpa mengenal lelah untuk memperluas kerajaan bsnis yang telah mereka kembangkan. Mereka juga kadang tanpa merasa jijik harus rebutan dan mengambil hak orang lain.

Ada ungkapan sinis tentang yang dicari orang  dalam hidup ini. Ketika susah, orang-orang bingung kalau mau makan, mau makan apa, sebab tidak ada yang akan dimakan. Itulah kesusahan orang kalangan bawah seperti pemulung. Mereka harus kerja keras, bangun pagi dan bergelut dengan baunya sampah dan bakteri. Bagi kalangan menengah yang sudah mulai mapan, punya kedudukan di kantor, naik mobil dan berdasi, pertanyaannya kalau mau makan adalah, “Mau makan di mana?” karena banyak pilihan restoran dan uang pun mulai banyak. Banyak kalangan pengusaha, yang sudah biasa bolak balik keluar negeri, punya beberapa perusahaan, rumah dan mobil mewah, bahkan punya “simpanan” alias isteri muda, pertanyaannya, “Hari ini makan siapa?” itu sebabnya bisnis dikenal sebagai 3K, Kasar, Kotor dan Kejam. Kaum bisnis saling sikut menyikut, sikat menyikat dan bunuh membunuh. Siapa kuat, dia yang menang dan hidup.

Semua golongan manusia melakukan pencarian dalam ukuran yang berbeda-beda. Semua orang mencari sesuatu di dunia ini. Dunia ini bak sebuah tempat pembuangan sampah raksasa, tempat setiap orang mengais-ngais mencari sesuatu. Orang kecil mencari jabatan dan penghasilan yang dipakai untuk mencukupi gaya hidup yang gemerlapan. Kaum jet set, selebritis atau pengusaha mencari emas, mobil, rumah mewah, atau uang untuk dihamburkan dalam gaya hidup hedonistik atau hanya mencari kesenangan semata-mata. Apakah ada kebahagiaan atau kepuasan hidup yang mereka temukan dalam pencarian itu? Kalau sudah puas dan bahagia, mengapa mereka seolah-olah tidak ada habis-habisnya mencari, mencari dan mencari yang lebih besar lagi? Hidup manusia yang seperti itu membuat manusia terjebak dalam sebuah ‘lingkarang setan’ kehidupan yang membosankan. Apakah selamanya kekuatan, kesempatan dan kesehatan itu ada terus?

 

Iklan