AWAL SEBUAH KEBAHAGIAAN 05b

AWAL SEBUAH KEBAHAGIAAN 05b

Kata-kata yang diucapkan itu adalah sebuah pengakuan yang muncul dari pengalaman hidup yang pernah menghabiskan masa mudanya untuk mencari sesuatu untuk memuaskan hawa nafsunya. Sebagai seorang pemuda, Agustinus memiliki gaya hidup hedonistik atau mengejar kenikmatan duniawi. Gaya hidup hedonisme menjadi kesenangan jasmaniah menjadi satu-satunya tujuan hidup yang paling utama. Penganut gaya hidup ini beranggapan bahwa dengan menikmati segala kesenangan hidup jasmani maka hidup mereka akan berbahagia. Mereka tidak segan-segan akan menghabiskan waktu untuk berfoya-foya, berjudi dan menikmati sex. Bergaul dengan anak-anak muda yang membanggakan pengalaman sexual mereka dengan lawan jenisnya, maka Agustinus pun didorong untuk mencari pengalaman. Hal itu dilakukan agar ia dapat diterima dalam pergaualan dan tidak diolok-olok. Pada usia muda, ia menjalin hubungan dengan seorang wanita muda di Karthago dan hubungan itu berlanjut selama 13 tahun.

Namun, akhirnya semua pencarian yang tidak memberi kebahagiaan itu berakhir setelah Agustinus membaca perjalanan hidup Anthonius dari gurun yang menginspirasi dan memotivasinya. Ia mengalami sebuah pergumulan pribadi. Dalam keresahannya itulah, di musim panas tahun 386, ia mendengar suara anak kecil yang seolah-olah sedang bernyanyi di sebuah taman, “Tolle lege (ambil dan baca. Ia membaca gulungan surat rasul Paulus kepada orang di Roma, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan jangan percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13: 13-14). Ia telah menemukan apa yang dicarinya selama ini, yaitu kebahagiaan dalam kehadiran Allah Sang Pencipta dalam hidupnya. Ia sepenuhnya melayani Tuhan sebagai seorang iman. Hatinya yang penuh kegelisahan dan kehampaan telah dipenuhi dengan kebahagiaan abadi ketika ia berlabuh dalam hadirat Allah.

Datanglah KerajaanMu.” Itu adalah sebuah pengajaran tentang prioritas agar hidup ini dipenuhi dengan kebahagiaan sejati. Dalam Roma 14 : 17, Paulus mengajar orang di Roma, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kalau orang ingin berbahagia, ia harus hidup dalam kebenaran (sesuai dengan tuntunan Hukum Tuhan), maka ia tidak memiliki ketakutan akan hukuman. Kalau orang mau berbahagia ia harus memiliki damai sejati di dalam hati. Kata damai berasal dari sebuah kata Yunani eirene yang diduga berasal dari kata kerja eiro yang berarti to join (bergabung). Bergabunglah dengan Yesus, Sang Raja Damai (Yesaya 9:5), maka saudara akan memiliki damai di tengah badai hidup dan penderitaan. Kehadiran Allah dalam hati melalui Roh Kudus akan menciptakan suasana hidup yang penuh dengan sukacita walau hidup kita sederhana. Jadi Allah ingin agar kita mengisi hati kita yang kosong dahulu sebelum kita memikirkan perut atau kantong celana (dompet), bila ingin memiliki hidup yang berbahagia. Sebab yang diluar tubuh kita, seperti uang, rumah, perhiasan atau kendaraan, akan ditentukan oleh apa yang ada di dalam hati kita.