AWAL SEBUAH KETENANGAN 02

AWAL SEBUAH KETENANGAN 02

Mendengar Dengan Cerdas

Ketika saya masiah kecil, saya membaca sebuah cerita anak-anak tentang Lauk Seribu Ikan. Dikisahkan dalam cerita itu, bahwa jaman dahulu kala ada seorang saudagar yang kaya raya, yang tinggal di sebuah negeri di pulau Sumatera. Saudagar itu memiliki kekayaan yang melimpah, namun hanya memiliki 2 orang anak laki-laki yang diharapkan suatu hari kelak dapat menjadi penerusnya. Ketika sang saudagar telah menjadi tua, ia segera membagikan harta kekayaannya kepada kedua anaknya dengan pesan agar mereka kalau makan, harus makan dengan lauk pauk seribu ikan.

Setelah sang ayah wafat, maka yang sulung hidup mewah dan menghamburkan uangnya dalam pesta pora setiap hari. Ia selalu mengundang banyak orang untuk datang menghadiri pestanya dan makan puluhan macam hidangan yang tersedia dengan limpah. Ia selalu berpikir bahwa uangnya banyak sehingga tidak perlu merasa kuatir akan kekurangan. Ia juga merasa sedang melaksanakan amanat sang ayah yang menganjurkan makan dengan lauk-pauk seribu ikan. Walau harta setinggi gunung, kata pepatah, bila setiap hari dikeruk dan dibuang, maka gunung pun akan musnah dan menjadi tanah datar biasa yang gersang. Seperti itulah kehidupan si sulung sepeninggal ayahnya. Ketika pesta berlangsung setiap hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan maka habislah segala harta warisan yang diterimanya dari sang ayah. Si sulung pun menjadi gembel dan melarat karena ia tidak mendengar dengan cerdas apa yang diamanatkan oleh sang ayah. Bagaimana dengan keadaan si bungsu?

Sepeninggal sang ayah, si bungsu hidup dengan sederhana dan terus mengembangkan bisnisnya sehingga bertambah kaya. Ia mendengar dengan cerdas apa yang dikatakan oleh ayahnya. Ia berhemat dalam hidup sehari-hari dengan makan makan nasi yang diiringi dengan lauk pauk yang dibuat dari ikan. Ia memaknai “Seribu ikan “ sebagai ikan-ikan teri yang dalam berat 1 kg dapat berjumlah ribuan jumlahnya. Ia makan dengan mengolah ikan teri menjadi bermacam-macam masakan yang dapat dilakukannya. Ikan teri itu adalah ikan yang murah harganya, namun banyak jumlahnya, dengan demikian uang si bungsu tidak semakin berkurang, namun terus bertambah seiring dengan perkembangan bisnisnya. Ia mendengar dengan jelas hal itu dan hidup dengan tenang menikmati segala kelimpahan hidup bersama dengan keluarganya.

Adam mendengar perintah Tuhan, “Semua pohon dalam taman ini bileh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Namun, ia tidak cerdas menyimak konsekuensinya bila ia melanggar larangan itu. Ketika Allah menciptakan seorang isteri untuknya, Hawa, seharusnya ia selalu mengingatkan isterinya untuk menjauh dari buah pengetahuan yang baik dan yang jahat agar tidak tergoda untuk memetik dan memakannya. Keberadaan Adam dan Hawa yang tidak  jauh dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat dimanfaatkan oleh iblis untuk menggoda dan menantangnya untuk mencoba.

Untuk hidup dengan tenang dan tidak terjembab ke dalam lembah duka yang berkepanjangan, kita harus belajar mendengar perintah Tuhan dengan Cerdas. Sebelum bangsa Israel masuk ke negeri Kanaan, Tanah Perjanjian, Musa berpesan dalam Ulangan 6: 1-6

“Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, kemana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hal orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dengarlah, hal orang Israel: TUHAN itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.”

Itulah kata-kata Musa sebelum berpisah dengan bangsanya karena ia tidak dijinkan masuk negeri Perjanjian. Musa tahu bahwa tanah Kanaan bukan lagi tanah kosong yang langsung dapat dimiliki dan dinikmati oleh bangsa Israel. Tanah itu dihuni oleh bangsa-bangsa yang beribadah kepada patung-patung berhala yang dibuat oleh manusia. Oleh karena itu, Tuhan melarang mereka untuk melakukan hubungan perjanjian dalam bentuk apapun dengan mereka. Bangsa Israel dilarang untuk membuat hubungan pernikahan atau keluarga dengan mereka.