AWAL SEBUAH KETENANGAN 04

AWAL SEBUAH KETENANGAN 04

Menerima Dengan Ikhlas

“Jadilah KehendakMu di bumi seperti di Sorga,” seharusnya mencerminkan sebuah hati yang pasrah dan ikhlas untuk mentaati apapun yang TUHan katakan atau perintahkan. Sebuah ketaatan, yang menggambarkan seberapa besar iman kita kepada Allah yang kehendakNya harus ditaati. Ada sebuah kisah luar biasa yang harus kita simak untuk dapat berkata, “Jadilah KehendakMu,” bila kita ingin hidup tenang dalam segala kebahagiaan.

Tahun 1904, William Borden (1887-1913) lulus dari sebuah sekolah menengah di Chicago, Amerika. Ia adalah pewaris kekayaan keluarga Borden yang kaya raya. Untuk hadiah kelulusannya, orang tuanya memberikan sebuah perjalanan keliling dunia. Dalam perjalanan melalui Asia, Timur Tengah dan Eropa, William merasakan sebuah kepedulian terhadap orang-orang yang menderita. Ia pun pulang ke rumah dengan sebuah keinginan untuk menjadi seorang missionary atau utusan Injil. Temannya tidak percaya bahwa William atau juga dipanggil Bill, akan ‘membuang’ dirinya menjadi seorang utusan Injil. Sebagai reaksi ketidakpercayaan temannya, Bill menulis 2 buah kata di belakang alkitabnya, “NO Reserves.” (Tidak ragu).

Walaupun Borden muda adalah orang kaya, ia berpenampilan sederhana ketika tiba di Universitas Yale tahun 1905. Segera teman-teman kampusnya melihat bahwa ada sesuatu yang tidka biasa dalam penampilan Bill. Seorang menulis, “Ia datang ke kampus dengan tingkat kerohanian yang jauh melebihi kami. Ia telah menyerahkan hati sepenuhnya kepada Yesus. Kami belajar dan menemukan di dalam pribadinya sebuah kekuatan seperti batu karang karena tujuan hidupnya yang luar biasa.” Selama tahun-tahun hidupnya di kampus, Bill selalu berprinsip, “Katakan ‘tidak’ kepada dirimu dan katakan’ya’ kepada Yesus.”

Di kampus, Bill merasa kecewa ketika Rektor selalu mendorong untuk memiliki tujuan hidup, namun tidak pernah menyatakan dengan jelas apa tujuan hidup itu seharusnya dan bagaimana mahasiswa dapat memiliki kekuatan untuk melawan godaan. Bill hanya melihat sebuah kehidupan yang hancur karena moralitas yang lemah yang bersumber pada prinsip hidup yang kosong. Di kampus Yale itulah, Bill memulai gerakan doa yang mengubah kehidupan kampus. Gerakan doa di kampus dalam waktu singkat telah melanda seluruh tingkatan mahasiswa. Dalam tahun yang pertama 150 mahasiswa bergabung dalam doa dan penelaahan Alkitab. Ketika Bill berada di tahun terakhir, 1000 dari 1300 mahasiswa Yale telah bergabung dalam gerakan doa pagi berkelompok. Dalam kelompok-kelompok itulah perubahan hidup terjadi. Setiap kali ada mahasiswa yang susah dijangkau dan tak seorangpun bersedia memasuakkannya ke dalam kelompoknya, maka Bill selalu menerima mahasiswa tersebut ke dalam kelompoknya.

Gerakan doa di kampus kemudian meluas ke tengah masyarakat. Bill mempedulikan janda-janda, yatim piatu dan mereka yang cacat. Ia menyelamatkan para pemabuk dari jalan-jalan di New Haven dan mendirikan Misi Harapan Yale (Yale Hope Mission). Orang dengan mudah menemukan Bill di bagian kota kumuh pada waktu malah, di jalan, di losmen murah atau restoran untuk memberi makan orang lapar dan menyelamatkannya. Kemudian matanya tertuju ke kelompok minoritas di China dan sejak itu Bill tidak tergoyahkan. Walaupun ia seorang milyuner, namun Bill menyadari bahwa ia harus melakukan bisnis ‘Bapanya yang di Sorga’. Ia tidak mau membuang waktu mengejar kesenangan duniawi. Seorang temannya menulis, “Ia adalah salah seorang yang berkarakter terkuat yang saya kenal. Ia adalah tulang punggung kehidupan kampus. Ada baja di dalam dirinya.” Di Yale, Bill menjadi Ketua dari perkumpulan Phi Beta Kappa (kumpulan orang pintar yang lulus dengan penghargaan Cum laude, Magna Cum Laude dan Summan Cum Laude). Setelah lulus, ia menolak tawaran kerja dengan gaji tinggi dan menulis di Alkitabnya 2 buah kata, “No retreats” (Tidak mundur).