AWAL SEBUAH KETENANGAN 04a

AWAL SEBUAH KETENANGAN 04a

William Borden kemudian mengambil kuliah lanjutan di Seminari Princeton, New Jersey. Setelah selesai, ia kemudian berlayar ke China. Dalam perjalanan ia mampir di Mesir dan belajar bahasa Arab. Di sanalah ia terkena penyakit meningitis yang menyebabkan kematiannya di usia 25 tahun. Ketika berita kematian William Borden dikirim ke Amerika, kisah William Borden menghiasi koran-koran di Amerika. Mark Taylor yang menulis kisah hidupnya berkomentar, “Gelombang dukacita melanda dunia, Borden bukan hanya memberikan kekayaannya, tetapi dirinya sebagai sebuah kehormatan, bukan pengorbanan. Sebelum kematiannya, Borden telah menulis 2 buah kata di Alkitabnya. Di bawah tertulis, “No reserves,” (Tidak ragu) dan “No retreats,” (Tidak mudur), Borden menulis lagi, “No regrets.” (Tidak menyesal).

Itulah kisah sebuah ketaat dari seorang yang berkata, “Jadilah kehendakMu.” Dengan ikhlas, Borden meninggalkan ambisi pribadinya untuk meneruskan bisnis ayahnya, menambah harta kekayaan dan kemuliaan duniawi. Dengan ikhlas, Borden memenuhi panggilan Sorgawi untuk terus berada dalam bisnis ‘Bapanya yang ada di Sorga’. Dengan ikhlas, Borden melakukan perjalanan laut menuju tempat panggilannya. Dengan ikhlas, Borden menerima ‘nasibnya’ menghadapi maut karena penyakit radang otak. Dengan ikhlas, Borden menulis di Alkitab yang dijunjungnya, “No reserves, NO retreats, NO regret.” Ia ikhlas, ikhlas, ikhlas sampai mati dengan sebuah ketaatan akan kehendak Allah.

Bagaimana seorang Borden dapat dengan ikhlas menulis “No regrets” pada kitab sucinya, walau impiannya, menjadi seorang utusan Injil, tidak menjadi kenyataan? Ia memiliki sebuah keyakinan yang kuat bahwa Tuhan tidak pernah keliru dan tahu memberikan yang terbaik. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan laut menuju China atau apa yang akan terjadi seandainya ia menjadi seorang utusan Injil di tengah-tengah suku minoritas di China. Itu sebabnya ia menulis, “No regrets”. Dapatkah kita juga menerima kenyataan dengan ikhlas ketika keinginan atau doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan? Hanya dengan keikhlasan itulah kita dapat berkata, “Jadilah kehendakMu”. Kita harus yakin ketika doa atau keinginan kita tidak dikabulkan oleh Tuhan, Ia mempunyai sesuatu yang lebih baik untuk kita miliki. Hal itu seperti orang tua yang menolak permintaan anaknya untuk makan makanan yang tidak sehat atau barang yang berbahaya, karena ia ingin memberikan makanan yang lebih baik atau barang yang lebih berguna.