AWAL SEBUAH KETENANGAN 05a

AWAL SEBUAH KETENANGAN 05a

Ada seorang anak sedang bermain dengan sebuah pot bunga yang ditinggalkan oleh ibunya di atas meja untuk beberapa saat. Ketika ibu itu berpaling karena mendengar anaknya menangis, ia melihat tangan anaknya terperangkap dalam pot itu, tak bisa dicabut. Sang ibu berusaha menolongnya dengan menarik tangan anak itu terus menerus, namun si anak malah menjerit kesakitan. Tangan anak itu makin susah dikeluarkan. Ayahnya menyarankan agar pot itu dipecahkan saja, namun mereka pikir harganya mahal dan tangan si anak mungkin akan terluka oleh pecahan. Si ayah kemudian memikirkan jalan lain yang aman. Ia menyuruh anaknya untuk tenang dan berkata, “Nak, mari kita coba sekali lagi. Bukalah tanganmu dan luruskan jarimu seperti yang ayah lakukan sekarang dan kemudian tariklah tanganmu kelaur pelan-pelan.”

“Tapi ayah,” kata si anak, “Kalau aku lakukan itu, maka aku akan kehilangan uang koinnya.”

Rupanya, dari tadi tangan si anak itu menggenggam koin yang ada di dalam pot itu sehingga kepalannya terperangkap dalam pot dan tak bisa dikeluarkan lagi. Tangannya terperangkap terus dalam pot karena ia tidak bersedia melepaskan koin yang digenggamnya. Namun, setelah ia mendengar dan ikhlas melakukan apa yang diperintahkan dan diperagakan oleh ayahnya, maka ia segera dapat menikmati kebebasan yang diinginkannya.

Saudara ingin menikmati kebebasan hidup yang sejati? Bebas dari segala rasa ketakutan, kekuatiran, kesusahan, kegagalan dan kehancuran? Belajarlah mendengar perintah Tuhan dengan cerdas. Milikilah hati yang penuh keikhlasan untuk melakukan apapun yang Tuhan inginkan, maka saudara akan menikmati kebebasan yang sejati. Jangan terus tinggal di ground zero kehidupan. Bangkitlah meraih kememangan sejati.

Benyamin Franklin (1706-1790), politisi, pembela hak-hak sipil, dan pakar pengetahuan, menulis “Let the child’s first lesson be obedience, and the second will be what thou wilt” (Biarlah ketaatan menjadi pelajaran pertama anak-anak dan yang kedua adalah jadilah kehendakmu).

Yesaya memberi peringatan kepada bangsa Israel yang akan mengalami masa pembuangan ke Babilonia, “Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku.” (Yesaya 48: 17-19). Sebuah masa depan yang luar biasa tersedia bagi bangsa Israel seandainya saja mereka mau mendengar dengan cerdas akan apa yang dikehendaki Allah dalam hidup mereka.

Damai sejahtera seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaan melimpah seperti gelombang laut yang tidak pernah berhenti akan menjadi milik mereka. Keturunan mereka akan menjadi bangsa yang besar dan senantiasa eksis di muka bumi. Semuanya hanya bergantung kepada sebuah ketaatan, “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku,” Kata memperhatikan adalah sebuah kata kerja bahasa Ibrani qashab yang berarti to prick up the ears (menaikkan telinga). Biasanya anjing akan menaikkan telinganya atau membuat kupingnya tegak berdiri ketika mendengarkan sesuatu. Dari kata itulah muncul arti mendengarkan dengan perhatian untuk melakukan. Milikilah sebuah ketaatan, maka saudara akan menikmati masa depan yang luar biasa, penuh damai dan kebahagiaan.

Dalam Matius 7: 24-25, Yesus mengajar, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

Orang yang mendengar dan melakukannya digambarkan sebagai orang bijak yang membangun rumah di atas batu. Bangunannya bertahan di tengah banjir karena berdiri di atas batu. Semua kehendak Allah yang diputuskan di Sorga harus dilaksanakan di bumi. Karena itu Yesus mengajar, “Jadilah kehendakMu di bumi seperti di Sorga.”

Bila saudara ingin menjadi orang bijak yang bertahan di tengah terpaan banjir dan badai, belajarlah mendengar dengan cerdas, melakukan dengan pas, menerima dengan ikhlas, maka saudara akan menikmati masa depan gemilang dengan bebas. Renungkan doa Paulus agar kita semua mengetahui kehendak Allah dengan cerdas dan melakukan dengan pas sehingga dapat menerima dengan ikhlas apapun hasilnya dan menikmati ketenangan hidup di tengah hembusan badai dan tetap berdiri tegak di tengah hempasan gelombang karena tahu bahwa Bapa tahu yang paling sempurna untuk hidup kita.

 

Iklan