AWAL SEBUAH KELIMPAHAN

AWAL SEBUAH KELIMPAHAN

Seorang ibu membawa anaknya, Toni, pergi berkunjung ke rumah temannya karena sudah lama tidak pernah bertemu. Dalam pertemuan kangen antara dua ibu itulah, Toni dilupakan kehadirannya. Kedua ibu dengan asyiknya berbincang-bincang selama berjam-jam tanpa sadar bahwa si Toni merasa bosan dan bingung dengan bermacam-macam topik pembicaraan yang dibicarakan. Akhirnya, teman ibu si Toni, tante Eni, sadar akan kehadiran si Toni dan mencari-cari sesuatu yang diberikan. Tante Eni mengambil tempat permen dan membuka tutupnya sambil berkata kepada si Toni, “Maaf ya Ton, kamu dari tadi bengong aja, ini ada permen, ayo ambil!” si Toni diam saja, walau tante Eni berkali-kali menyodorkan kotak permen kepadanya. Ibu si Toni menjadi tidak sabar melihat kelakuan si Toni yang dipikir tidak tahu sopan santun. Ibunya berkata, “Toni, apa yang musti kau lakukan bila seseorang menawarkan sesuatu kepadamu?” Si Toni tetap diam saja tidak bereaksi mengambil permen yang disodorkan.

Akhirnya tante Eni yang itdak sabar mengambil permen segenggam penuh dan memberikannya kepada si Toni. Dengan sigap si Toni membuka kedua telapak tangannya menerima permen yang banyak itu sambil mengucapkan terima kasih. Ketika pulang ke rumahnya, ibu si Toni marah-marah kepadanya karena dia pikir perbuatan si Toni telah mempermalukannya. Ibunya berkata, “Toni, kenapa kamu lakukan hal yang memalukan ibu di rumah tante Eni tadi? Berkali-kali kamu di tawari permen oleh tante Eni, kamu diam saja, tidak mau mengambilnya, tetapi ketika tante Eni mengambil segenggam penuh permen, kamu langsung membuka kedua tanganmu menerimanya?” Dengan tenang si Toni menjawab, “Ibu nggak ngerti sih. Kalau aku yang ambil permen tanganku kecil, pasti permennya juga sedikit. Tangan tante Eni itu besar, kalau dia yang ambil tentu permennya banyak. Makanya aku diam saja gak mau ambil sendiri.”

Kita harus belajar banyak dari kisah si Toni di atas tadi. Betapa sering kita meraih kekayaan, keberhasilan, kemasyhuran dan kelimpahan dengan cara kita sendiri. Sering cara-cara yang kita pergunakan menyimpang dari peraturan dan kepatutan. Saya pernah melihat sebuah tayangan tv melalui saluran National Geography tentang runtuhnya seluruh lantai bangunan sebuah supermarket berlantai 5, Sampoong Departement Store, di Seoul, Korea Selatan, pada tanggal 29 Juni 1995. Keruntuhan itu telah menyebabkan lebih dari 500 nyawa melayang dan lebih dari 900 orang cedera, serta menyebabkan kerugian yang diperkirakan lebih dari US$ 200 juga. Mengapa bangunan yang baru beroperasi selama 5 tahun itu hancur dan menyebabkan kerugian yang sangat besar, baik nyawa manusia maupun uang? Jawabannya hanya satu yaitu keserakahan. Manusia serakah ingin meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala macam cara, maka terjadilah korupsi besar-besaran dalam pembangunan gedung tersebut.

Bangunan itu didirikan dengan banyak pelanggaran terhadap banyak peraturan keselamatan. Lahan tempat bangunan itu berdiri adalah lahan urukan yang labil dan bangunan yang didirikan awalnya dirancang untuk sebuah perkantoran, bukan untuk departement store yang setiap hari dikunjungi oleh kira-kira 40.000 orang. Bangunan itu didirikan dengan struktur yang tidak memenuhi syarat dan banyak mengalami pembuangan kolom penyangga karena harus menempatkan banyak eskalator buat pengunjung toko. Pemiliki toko juga telah membuat lantai tambahan untuk restoran di lantai 5, padahal gedung hanya dirancang berlantai 4. Kemudian penempatan 3 buah alat pendingin yang masing-masing berbobot 15 ton di lantai paling atas telah menyebabkan beban yang terlalu berat bagi tiang-tiang penyangga. Akibatnya bukanlah keuntungan tetapi kerugian nyawa maupun harta, bahkan banyak orang masuk penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatan serakahnya. Banyak orang ingin mengambil sendiri kekayaan sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Dalam Doa Bapa Kami, Yesus men gajar kita tentang sebuah kesempatan yang terbuka lebar untuk memperoleh hidup yang berkecukupkan, bahkan berkelimpahan, bila kita mengerti prinsipnya.