AWAL SEBUAH KELIMPAHAN 02b

AWAL SEBUAH KELIMPAHAN 02b

Sering kita ini bersikap seperti anak sulung dalam perumpamaan ‘Anak yang Terhilang’ dalam Lukas 15: 28-31.

“Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.” Kata ayahnya kepadanya: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”

Anak sulung itu marah karena cemburu dengan sikap bapanya yang menyambut kedatangan si bungsu dengan pesta yang meriah. Si bungsu telah pergi menghamburkan uang warisan yang diminta dari bapanya, namun bapanya masih sayang dan menyambutnya dengan hangat ketika ia pulang dalam keadaan miskin. Si bapa berkata kepada si sulung bahwa dia selalu ada bersama bapanya, kesempatan untuk menikmati kemewahan dan kesenangan itu selalu ada. Si sulung boleh minta dari bapanya apa yang diinginkan hatinya karena kekayaan bapanya adalah kekayaan yang boleh dinikmati dan diminta oleh anaknya. Yang harus dilakukan oleh si sulung hanyalah meminta dari bapanya.

Kami bukanlah keluarga orang kaya yang berkelimpahan harta, namun kami selalu memperhatikan segala keperluan anak-anak setiap kali mereka mau keluar, baik ke gereja atau ke mall untuk jalan-jalan dan makan di restoran. Kami, saya atau isteri selalu bertanya, “Kamu punya uang? atau perlu uang berapa?” kami sering juga bertanya masih ada uang berapa dalam rekening atau tabungan mereka di bank. Kami tahu bahwa anak-anak kami bukanlah sosok anak-anak yang tukang belanja atau jalan-jalan dan makan-makan sesukanya. Bahkan, kami selalu memberi tahu mereka bahwa ada amplop di meja atau di laci berisi uang yang dapat mereka gunakan kapan saja mereka memerlukannya asal memberi tahu.

Kesempatan untuk hidup berkelimpahan dimungkinkan bukan saja karena kita memiliki Bapa yang MahaKarya, namun Ia juga Mahakasih dan Mahapeduli. Dalam Roma 8: 32, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Ia tidak merasa sayang atau sedih atau segan untuk menyerahkan Anak-Nya (Yesus), datang ke dunia dan mati untuk menebus dosa kita. Bagaimana mungkin Ia tidak memberikan kepada kita segala yang kita perlukan dalam hidup ini, bila kita minta kepadaNya.

Dalam Matius 7: 7, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Kata kerja aktif mengajar kita untuk minta terus menerus, cari terus menerus dan ketok terus menerus, maka kita akan mendapatkannya. Ia yang memberi kita kesempatan untuk minta terus-menerus sampai kita mendapatkannya dan mengabulkan permintaan kita, apalagi bila permintaan itu akan membuat Bapa dipermuliakan (Yohanes 14: 13).

Dalam Matius 7: 9-11, Yesus mengingatkan kita bahwa, “Seperti bapa yang baik di dunia yang tahu memberikan roti bukan batu dan ikan bukan ular kepada anaknya, demikian juga Bapa Sorgawi akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.”

 

Iklan