AWAL SEBUAH KELIMPAHAN 03

AWAL SEBUAH KELIMPAHAN 03

Bersinarnya Keturunan

Kami pernah mempunyai tetangga, yang dengan penuh kesadaran memilih tidak ingin punya anak karena takut tidak dapat memberikan yang terbaik bagi mereka. Hal itu sangat memilukan karena suami isteri itu adalah sarjana yang memiliki pekerjaan tetap dengan karier yang bagus. Ketakutan ini juga sering melanda laki-laki atau perempuan dewasa yang takut menghadapi pernikahan karena hidup yang semkain susah. Disinilah Yesus mengajar kita tentang konsep atau pemikiran yang benar mengenai Allah yang kita kenal dan puja. Ia bukan hanya Allah yang sekadar ada tapi jauh dan tidak peduli. Ia tahu segala keperluan kita dan keluarga.

Dalam Mazmur 112, kita belajar tentang bagaimana Allah memperhatikan keluarga orang yang hatinya takut akan Tuhan. Takut disini artinya hormat dan gentar akan hadirat Allah yang Mahakudus. Penulis Mazmur mengingatkan kita bahwa ketika seseorang menaruh hormat dan gentar akan hadirat Allah, maka ia akan cenderungkan hatinya untuk menyukai dan mentaati segala perintah Tuhan. Sebagai hasilnya maka orang yang seperti itu akan berbahagia hidupnya.

Kata bahagia terjemahan sebuah kata bahasa Ibrani esher yang memiliki akar kata kerja yang berarti to be straight (lurus), dari sini datang pengertian to go forward (maju terus). Jadi orang yang takut akan Tuhan akan maju terus, tidak akan terkendala oleh kesusahan, kegagalan atau kesulitan hidup apapun. Pada ayat yang ke-2, digambarkan anak cucunya akan perkasa di bumi karena keturunan oran gyang benar (lurus) akan diberkati Tuhan. Kata perkasa adalah sebuah kata bahasa Ibrani gibbor yang memiliki akar kata kerja yang berarti tobe strong. Mereka kuat tentu bukan hanya karena makan, tetapi mental meraka adalah mental seorang petarung atau juara. Mereka sanggup mengatasi persoalan apa saja, jadi kita tidak usah kuatir akan nasib keturunan kita nanti. Dalam kegelapan sekalipun, akan muncul terang pengharapan dan pertolongan bagi orang benar.

Dalam Mazmur 112: 3, dikatakan bahwa harta dan kekayaan ada dalam rumahnya. Artinya, orang benar tidak akan kekurangan dalam soal keperluan jasmani, bahkan berkelimpahan sehingga ia dapat melakukan kebajikan selama hidupnya. Kata kebajikan adalah sebuah kata Ibrani tsedaqah yang memiliki akar kata tzadaq, yang berarti to be right (benar). Kata benar ada hubungannya dengan masalah hukum atau pengadilan atau tidak melanggar peraturan. Maka lahirlah terjemahan kebajikan dalam Alkitab Indonesi artinya memenuhi tuntutan rasa keadilan, berbagai dengan sesama yang menderita. Oleh karena itulah dalam ayat ke-5, ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman bahwa membagi-bagikan hartanya kepada orang miskin.

Agar keturunan kita kuat fisik dan mentalnya untuk bekerja sehingga mampu berbagi dengan sesamanya, Yesus mengajar kita untuk minta rejeki atau makanan buat kita dan keturunan kita, “Berikanlah kami.” Permintaan ini dapat menjadi permintaan kolektif buat seluruh keluarga. Dia yang telah memulai sebuah keluarga di awal peradaban dunia di Taman Eden adlah Dia juga yang telah memulihkan sukacita sebuah pesta keluarga di negeri Kana. Dia juga yang berjanji memberkati kelaurga adalah Dia juga yang akan mencukupkan segala keperluan hidup keluarga bila kita minta kepadaNya, “Berilah kami”. Kami bukanlah keluarga yang berkelimpahan dengan uang, tetapi kedua anak kami pernah sekolah dan kuliah di luar negeri dengan bea siswa. Kami selalu minta kepada Bapa di Sorga agar memenuhi segala keperluan kami dan anak-anak dan kemudian kami mensyukuri seolah-olah kami telah menerimanya, maka hal itupun terjadi.

Dia selalu mampu memberkati dan memenuhi segala keperluan hidup kita dengan cara-cara yang luar biasa, jauh melebihi apa yang kita minta dan pikirkan. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengunjungi sebauh keluarga di sebuah pulau di Indonesia bagian tengah. Keluarga itu bercerita bagaimana Tuhan memenuhi keperluan mereka yang mendadak ketika tamu datang berkunjung ke tempat mereka, padahal mereka tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan. Saat itulah mereka hanya minta kepada Bapa dalam doa agar mereka dapat memasak sesuatu untuk tamu-tamunya itu. Selesai berdoa, tiba-tiba pintu rumah diketuk dan seorang tukang becak menyerahkan sekarung beras, sayur mayur, minyak dan ikan. Wah, mereka bersorak dengan riang gembira karena Tuhan telah menjawab doa mereka dengan cara yang luar biasa. Sang isteri segera masak dan siang itu mereka dapat menjamu para tamunya dengan makanan yang berlimpah. Namun, setelah mereka makan, datanglah tetangga sebelah rumah dan bertanya apakah beberapa waktu sebelumnya ada kiriman beras, sayur-mayur, minyak dan ikan. Keluarga ini mengiyakan pertanyaan tetangganya dan menjadi terkejut karena ternyata tukang becak salah kirim. Semua barang yang telah di masak dan di makan itu ternyata seharusnya dikirim ke rumah tetangganya. Keluarga yang mendadak dapat kiriman bahan-bahan makanan itu berjanji akan mengganti semuanya, namun tetangga sudah mengikhlaskan barang-barang itu semua dimakan keluarga itu bersama dengan tamunya. Jadi Tuhan selalu punya cara untuk menolong dulu, urusan bayar belakangan..hehehehe….tapi jangan berdoa agar semua kiriman di salah-alamatkan nanti jadi berabe dong, ini dunia jadi kacau….hahahahaha…