AWAL SEBUAH KELIMPAHAN 04

AWAL SEBUAH KELIMPAHAN 04

Bertahapnya Kehidupan

Saya pernah membaca sebuah berita yang menarik tentang sebuah jam besar yang jarumnya mendadak berhenti dan tak mau berputar lagi. Ketika seorang ‘dokter’ (ahli) jam memeriksa kondisi jam tersebut, terbukalah masalahnya mengapa jam itu berhenti berputar. Sang dokter bertanya kepada jam itu mengapa jarumnya berhenti berputar dan mati. Sang jam menjelaskan duduk persoalannya.

“Bayangkan dokter, setiap detik saya harus berbunyi tik-tak. Dalam satu menit saya harus berbunyi: 60 x 2 = 120 kali. Dalam 1 jam saya harus berbunyi: 120 x 60 = 7.200. Dalam 1 hari saya harus berbunyi 24 x 7200 = 172.800 kali. Dalam 1 minggu saya harus berbunyi: 7 x 172.800 = 1.209.600. Dalam 1 bulan saya berbunyi: 30 x 172.800 = 5.184.000 kali. Bayangkan berapa kali saya harus berbunyi dalam 1 tahun, 10 tahun dan selanjutnya. “Saya merasa kuatir dan takut tidak dapat bekerja lagi sebab terlalu berat tugas yang harus kulakukan.”

Dokter jam tersenyum dan berkata, “Kamu stress dan takut karena kamu berpikir terlalu jauh. Kamu memikirkan apa yang akan terjadi 1 tahun atau 10 tahun kemudian. Belajarlah berpikir sederhana dan bertahap. Pikirkanlah detik ini, kau hanya berbunyi 2 kali. Pikirkan saja jam ini engkau hanya berbunyi 7.200 kali dan seterusnya. Dengan demikian beban pikiranmu tidak terlalu berat. Berpikirlah selangkah demi selangkah agar setiap tugas menjadi ringan.”

Jam itu sadar akan kesalahannya dan mulai bergerak dan berbunyi lagi sambil tersenyum riang. Apakah ini juga menjadi persoalan saudara selama ini sehingga saudara stress dan takut menghadapi hari esok? Saudara bekerja keras siang dan malam sehingga lupa akan istirahat dan makan karena ingin mengumpulkan sebanyak-banyaknya agar anak dan cucu tidak berkekurangan. Saudara kuatir akan apa yang terjadi 10 atau 20 tahun lagi. Saudara menjadi takut untuk membangun rumah tangga karena takut tidak dapat memberi makan isteri dan anak-anak. Coba pikirkan ketika saudara berjalan, bukanlah selangkah demi selangkah? Coba pikirkan ketika saudara menikmati makanan setiap hari, bukankah sesuap demi sesuap?

“Berikanlah kami hari ni.” Dalam Doa Bapa Kami ini, Yesus mengajarkan sebuah cara berpikir yang bertahap agar kita dapat sungguh-sungguh menikmati kehidupan dengan perasaan bebas dari ketakutan. Mahatma Gandhi yang hidup sederhana dan banyak memikirkan nasib bangsanya di India, menorehkan kata-kata bijak, “Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.” (Persediaan bumi cukup memenuhi setiap keperluan manusia, namun tidak untuk setiap keserakahan). Kita dapat hidup dengan tenang di muka bumi ini bila kita tidak serakah. Kita harus belajar mensyukuri setiap berkat yang kita terima setiap hari dengan tidak merasa kuatir akan apa yang akan kita makan esok hari.

Dalam Matius 6: 34, Yesus mengingatkan kita untuk tidak kuatir akan hari esok karena hari esok memiliki masalah atau kesusahan sendiri. (Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahan sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari). Kata kuatir adalah terjemahan dari kata Yunani merimnao yang berakar pada kata kerja merizo yang berarti to part (berpisah), atau disunite (atau tidak menjadi satu). Ketika kita memikirkan hari esok, maka pikiran kita terpecah untuk memikirkan hari ini dan hari esok, maka beban hidup pun akan bertambah, padahal hari esok memiliki persoalan-persoalan yang harus kita hadapi. Mengapa kita tidak fokus saja kepada hari ini seperti yang diajarkan Yesus dalam Doa Bapa Kami supaya hidup kita berbahagia dalam menikmati kehidupan secara bertahap? Coba renungkan lirik lagu yang ditulis oleh Marijohn Wilkins/Kris Kristofferson ini.

Selangkah Demi Selangkah

Aku hanyanya seorang manusia, seorang wanita,

Tolonglah aku untuk percaya untuk dapat menjadi aku apa adanya,

Tunjukkanlah jalan naik yang harus kunaiki.

Tuhan, ajarlah aku untuk berjalan selangkah demi selangkah.

Chorus:

Selangkah demi selangkah, ya Yesus. Hanya itu yang kuminta dariMu.

Berikanlah aku kekuatan untuk melakukan kewajibanku setiap hari.

Kemari sudah berlalu, ya Yesus dan esok belum jadi milikku.

Tuhan tolonglah aku hari ini, tunjukkanlah jalan selangkah demi selangkah

Masih ingatkah ketika kau di dunia?

Kau tahu, Yesus, bila kau lihat ke bawah, sekarang jauh lebih

Buruk dari masa lalu.

Penipuan, pencurian, kekerasan dan kejahatan.

Karena itu ajarlah aku selangkah demi selangkah.