AWAL SEBUAH KEMULIAAN

AWAL SEBUAH KEMULIAAN

 

Ada cerita tentang seorang gadis buta yang selalu membenci dirinya karena ia buta. Ia pun benci dengan setiap orang, kecuali laki-laki yang disayanginya karena ia selalu ada setiap saat gadis itu memerlukannya. Gadis itu selalu berkata bahwa bila ia dapat melihat dunia ini maka ia akan menikah dengan sang kekasih. Pada suatu hari, seseorang mendonarkan sepasang mata kepadanya sehingga ia dapat melihat segala sesuatu termasuk kekasihnya. Sang kekasih bertanya kepadanya, “Sekarang kamu dapat melihat dunia, maukah kau menikah denganku?” si gadis itu terkejut ketika ia melihat bahwa kekasihnya buta juga, karena itu ia menolak untuk menikah dengannya. Dengan air mata berlinang, sang kekasih itu pergi meninggalkannya dan kemudian menulis sebuah surat kepada si gadis dengan kata-kata, “Jagalah mataku baik-baik, sayang!”

Apakah yang saudara pikirkan tentang gadis buta itu? Tidak tahu berterima kasih? Tidak tahu diri? Sombong? ‘kacang lupa akan kulitnya’? Yah, gadis buta itu tidak tahu berterima kasih atas pengorbanan kekasihnya yang tulus mencintainya. Sang kekasih telah rela memberikan kedua matanya agar gadisnya dapat melihat, namun gadis itu menolak karena melihat kenyataan bahwa kekasihnya itu buta. Itulah dosa yang sering kita lakukan kepada Allah yang telah melimpahkan segala kebaikanNya kepada kita.

Dosa tidak tahu berterima kasih adalah dosa yang sering dilakukan oleh  manusia, mahluk yang diberi nurani dan intelegensi luar biasa oleh Sang Pencipta. Apakah kita pernah mengucap syukur ketika kita bangun dari tidur setelah tidur lelap sepanjang malam? Apakah kita mengucap syukur bahwa mata kita dapat melihat, mulut dapat berbicara, tangan dan kaki dapat bergerak atau lidah kita dapat merasakan nikmatnya rasa asin, manis, pedas atau enak? Berapa banyak dari kita yang mengetahui betapa berharganya sebuah tidur yang lelap, yang tidak semua orang dapat menikmatinya; betapa berharganya sebuah kenikmatan akan makanan apa saja yang dapat dimakan; betapa berharganya sebuah keindahan yang dapat dilihat dengan mata yang sehat.

Bukahkah kita sering berpikir bahwa semua itu sudah seharusnya begitu? Matahari harus bersinar ketika pagi tiba dan mata harus terbuka ketika kita terjaga dari tidur sepanjang malam, mulut harus berbunyi saat kita berbicara dan tangan serta kaki harus bergerak ketika kita berjalan atau bekerja. Siapakah yang telah membuat jantung kita terus menerus berdetak sepanjang umur kita yang telah memungkinkan kita bergerak, berpikir, bekerja dan beroleh kekayaan yang cukup untuk dinikmati? Coba renungkan kisah gadis buta di atas tadi. Betapa tidak tahu berterima-kasihnya ia akan pengorbanan sang kekasih yang telah rela menyerahkan kedua matanya agar si gadis dapat melihat.

 

Iklan