AWAL SEBUAH KEMULIAAN 02

AWAL SEBUAH KEMULIAAN 02

Pengakuan

Seorang anak TK, namanya Doni, di bawa oleh ibunya mengunjungi tetangga hanya untuk berbincang-bincang. Setelah 1 atau 2 jam, sang tetangga sadar dari tadi si Doni itu bengong dan gelisah saja ingin pulang. Karena itu, sang tetangga, tante Vivi, mengambil sebuah jeruk dari dalam kulkas untuk si Doni. Ibunya yang melihat si Doni diam saja setelah menerima jeruk, dengan malu, ia menegur anaknya, “Don, bilang apa sama tante Vivi?” Si Doni diam saja, akhirnya setelah ditanya berulang-ulang, si Donibilang, “kupasin dong sekalian!” sering yang kita lakukan kepada Bapa, Sang Pemberi Berkat Kehidupan, seperti kelakuan si Doni. Tidak berterima kasih, tetapi malah memberi pekerjaan untuk Allah lakukan.

“Ampunilah Segala Kesalahan.” Dalam pengajaran Doa Bapa Kami inilah, Yesus mengingatkan kita untuk menyadari dan mengakui dosa yang sering kita lakukan dan memohon ampun kepadaNya. Dalam Matius 6: 11, Yesus membuka sebuah kesempatan kepada kita untuk datang dan minta kepada Bapa di Sorga tentang apa yang kita perlukan. Ketika seseorang minta sesuatu kepada saudara dan tidak mengucapkan apa-apa ketika saudara memberikannya, apakah saudara tertarik atau berminat memberi lagi ketika orang itu minta lagi? Mengapa sering permintaan kita tidak dijawab oleh Tuhan? Mengapa kita sering merasa bahwa berkat Tuhan sangat jauh dari kita? Inilah saatnya kita datang dan mengakui segala kesalahan kita yang selama ini tidak tahu berterima kasih dan mengucap syukur kepada Allah, Tuhan kita, yang telah melimpahkan segala kebaikanNya kepada kita.

Ada satu cerita yagn saya baca tentang 2 anak remaja yang sedang meluangkan waktu liburannya di rumah kakek dan neneknya di desa, di daerah pertanian dan peternakan. Johnny, anak remaja laki-laki, itu diberi mainan sebuah ketapel untuk bermain di hutan. Ia terus berlatih menggunakan ketapel itu, namun tak pernah dapat mengenai sasaran. Dengan sedikit kekecewaan, ia pulang kembali ke rumah untuk makan. Ketika ia sedang berjalan, ia melihat bebek peliharaan neneknya. Ia kemudian mengarahkan ketapelnya ke arah bebek itu, dan malangnya, batu itu tepat mengenai kepalanya, sehingga bebek itu mati. Johnny sangat terkejut dan takut. Dalam kepanikannya, ia menyembunyikan bebek mati itu di bawah tumpukan kayu, namun ia terkejut melihat kakaknya, Sally, memperhatikan apa yang telah diperbuatnya. Namun, Sally tidak mengatakan apa-apa kepadanya.

Keesokan harinya, ketika makan siang telah usai, nenek berkata, “Sally, mari kita mencuci piring-piring kotor.” Namun Sally menjawab, “Nenek, Johnny tadi bilang bahwa ia mau bantu-bantu di dapur.” Kemudian ia berbisik di kuping Johnny, “Ingat bebek!” Johnny kemudian melakukan semua tugas pencucian piring kotor di dapur. Keesokan harinya kakek bertanya kepada kedua anak itu, Johnny dan Sally, apakah mereka mau pergi memancing, tetapi nenek berkata, “Maaf, aku memerlukan Sally untuk mempersiapkan makan malam.” Sally hanya tersenyum dan berkata, “Tenang saja, karena Johnny bilang bahwa ia akan membantu mempersiapkan makan malam.” Kemudian ia berbisik di kuping si Johnny, “Ingat bebek!”. Kemudian, Sally pergi memancing dan Johnny tinggal di rumah membantu nenek.

Setelah beberapa hari Johnny melakukan semua tugasnya dan tugas Sally yang dibebankan kepadanya, akhirnya Johnny tidak tahan lagi. Ia datang kepada nenek dan mengakui segala dosanya bahwa ia membunuh bebek nenek. Nenek tersenyum, berlutut memeluk dan mencium si Johnny serta berkata, “Sayang, aku tahu apa yang telah kamu lakukan. Kamu tidak tahu kan? Aku berdiri di jendela dan melihat semua yang terjadi. Aku memaafkan segala kesalahanmu karena aku mencintaimu. Nenek hanya bingung, kenapa lama kamu akan membiarkan Sally memperbudakmu.” Sejak saat itulah sebuah kebebasan dan kemenangan dirasakan oleh si Jonny.

Kita sering seperti si Johnny, yang tidak tahu berterima kasih kepada kakek dan neneknya. Ia berkesempatan menikmati segala kebahagiaan di desa yang tenang dan berkelimpahan, namun membunuh bebek peliharaan neneknya. Kemudia ia mencoba menyembunyikan segala kesalahan dengan berpura-pura hidup tenang, padahal sengsara. Kita membiarkan setan memperbudak dan mengintimidasi kita sehingga kita semakin menderita. Tahukan saudara, bahwa Allah senantiasa berdiri di ‘jendelanya’ dan melihat semua hal yang terjadi, dan dilakukan oleh kita? Ia sangat mengasihi kita dan setiap saat mau mengampuni segala kesalahan apapun yang kita telah lakukan kepadaNya. Ia ingin memulihkan setiap berkat yang seharusnya menjadi milik kita bila kita mau datang dan memohon pengampunan kepadaNya.