AWAL SEBUAH KEMULIAAN 02a

AWAL SEBUAH KEMULIAAN 02a

Sebuah pengakuan juga diucapkan oleh Si anak Bungsu yang telah meninggalkan bapanya dan menghamburkan semua uang warisan yang dianggap menjadi haknya. Setelah ia merenungkan nasib dan kesalahannya, ia bangkit dan kembali ke rumah bapanya untuk sebuah pengakuan. Di hadapan bapanya yang terus menanti kembalinya, anak bungsu berkata, “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.”

Tahukan saudara bahwa ada 2 kata yang paling sulit diucapkan oleh kebanyakan orang? “Saya bersalah”. Pernahkah kita mengucapkan 2 kata itu dengan tulus ketika kita tidak menepati janji kita, datang terlambat, memarahi orang tanpa sebab atau berprasangka buruk kepada seseorang? Nah, kalau kepada manusia yang kelihatan saja kita susah mengucapkan kata ‘saya salah’, bagaimana kita dengan tulus dapat mengatakan hal itu kepada Allah yang tidak kelihatan? Mengapa ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa dan bersembunyi, Allah harus bertanya, “Dimanakah engkau?”

Apakah Tuhan tidak tahu tempat persembunyian Adam dan Hawa? Aneh bukan, bila kita mengatakan bahwa Allah tidak tahu. Sebuah kesempatan diberikan oleh Tuhan kepada mereka untuk datang dan mengaku segala kesalahan. Namun, kesempatan itu tidak digunakan dengan baik. Malah sebaliknya, Adam dan Hawa saling tuding menyalahkan diri masing-masing. Ketika keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, ketika seolah-olah kita terkapar di ground zero kehidupan, itulah saatnya kita merenung dan mengakui segala kesalahan kita.