AWAL SEBUAH KEMULIAAN 03

AWAL SEBUAH KEMULIAAN 03

Pelepasan

Saudara pernah makan kepiting rebus, goreng, bakar, masak atau asap? Enak bukan? Namun, tahukah saudara bagaimana caranya orang-orang menangkap kepiting secara tradisional atau amatir? Kata orang yang biasa menangkap kepiting, salah satu caranya ialah dengan batang bambu atau ranting dan baskom yang berisi air panas. Batang bambu atau ranting itu cukup ditusuk-tusukkan ke arah kepiting yang biasanya senang bersembunyi di hutan-hutan bakau. Kepiting yang terusik akan menjadi marah dan membuka capitnya, kemudian dengan sigap kepiting itu akan menyambar ranting atau bambu itu sekuat tenaga dan tak pernah melepaskannya lagi. Nah, saudara tinggal mengangkat bambu yang dijepit kepiting itu dan memasukkannya ke dalam baskom air panas, maka terlepaslah jepitan sang kepiting dan saudara siap membawa kepiting-kepiting itu pulang untuk memasaknya.

Itulah reaksi yang sering kita perlihatkan kepada orang yang mencoba mengusik ketenangan hidup kita. Emosi kita tersulut dan kemudian beraksi dalam kemarahan membalas balik, menyakiti orang yang telah menyakiti kita. Sebagian besar orang memang melakukan itu, ‘gigi ganti gigi atau mata ganti mata’. Kita melepaskan energi kemarahan kita sedahsyat-dahsyatnya kalau bisa. Lihatlah aksi demo-demo atau kerusuhan yang pernah terjadi di ebberapa kota besar di dunia. Saudara masih ingat kerusuhan yang terjadi di London beberapa waktu yang lalu dan telah menyebabkan kerugian lebih dari 200 juta poundsterling atau lebih dari 2,7 triluin rupiah. Antara tanggal 6-10 Agustus 2011, kerusuhan yang terjadi di London, disertai pembakaran dan penjarahan, telah meluas ke beberapa kota lain. Selama kerusuhan itu terjadi lebih dari 3.000 tindak kejahatan, ribuan orang ditangkap dan dijadikan tersangka. Lebih dari lima orang meninggal dan ratusan luka-luka. Yah, itulah ungkapan kemarahan yang diperlihatkan oleh massa, apakah seperti itu juga yang sering kita perlihatkan ketika kita disakiti? Kita berusah menjadi seperti green hulk (raksasa hijau) yang mengamuk ketika kita disakiti.

Ada reaksi lain yang sering dilakukan oleh orang-orang yang merasa disakiti yaitu menyimpan kepedihan dalam hati. Kemarahan dan kepedihan yang bertumpuk dalam hati akan menyebabkan stress (tekanan) yang berkepanjangan. Nah, stress yang berkepanjangan itu akan menyatakan diri dalam berbagai penyakit kejiwaan yang menggerogoti semangat hidup kita untuk naik meraih impian kita. Daud menggambarkan keadaan dirinya yang menderita sakit karena kemarahan yang tertahan terhadap musuh yang menyusahkan hidupnya. Banyak sarjana menduga bahwa penulisan Mazmur 6 ini dilatar belakangi oleh pemberontakan Absalom, anak Daud sendiri.

Pada ayat 3, Daud menggambarkan keadaan sakit dirinya yang merana dan tulang tulangnya gemetar, karena itu ia minta disembuhkan. Pada ayat ke 7, Daud merasa lesu atau kelelahan karena mengeluh dan menangis sepanjang malam sehingga seolah-olah air mata yang ditumpahkannya menjadi banjir. Tangis yang berkepanjangan telah membuat matanya menjadi tidak dapat melihat dengan maksimal. Kata mengidap adalah terjemahan kata ashesh yang berarti gagal atau menciut. Sedangkan kata rabun adalah terjemahan kata athaq yang berarti menjadi tua. Pada ayat yang ke 8 lah, Daud mengakui bahwa sebab semua penderitaan sakitnya adalah sakit hati karena musuh-musuh yang menyakiti hatinya. Rupanya kemarahan atau sakit hati terhadap orang-orang yang menyakitinya telah menyebabkan Daud menderita sakit. Daud mengakui dengan jujur bahwa ia tidak dapat tidur karena sepanjang malam hanya mengeluh dan mencucurkan air mata. Karena itulah, ia minta belas kasihan Tuhan (ayat 3) untuk mengampuninya, agar ia dapat disembuhkan.