AWAL SEBUAH KEMULIAAN 03A

AWAL SEBUAH KEMULIAAN 03A

Dunia kedokteran modern telah membuktikan betapa dahsyat penderitaan orang yang menyimpan kemarahan dan sakit hati. Beban hidup (stress) yang diakibatkan oleh pengekangan kemarahan dan sakit hati telah membuat sistem kekebalan menjadi kurang berfungsi dan tubuh menjadi rawan gangguan kesehatan. Kemarahan dalam hati menyebabkan orang tidak dapt tidur dengan baik akibatnya orang itu dapat menderita insomnia atau gangguan tidur. Kemarahan yang terpendam dapat menyebabkan pengerasan pembuluh darah sehingga mengurangi aliran darah ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menimbulkan penyumbatan yang dapat berakibat stroke. Kemarahan yang terus menerus dapat menyebabkan gangguan jantung karena jantung akan bekerja lebih keras, maka detak jantung dan tekanan darah akan meningkat. Dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh maka tubuh pun menjadi rawan akan serangan virus dan bakteri. Hal ini juga akan menyebabkan tubuh menjadi rawan terhadap kemungkinan kanker.

Dr. Gabor Mate, dokter Kanada kelahiran Hongaria, peneliti menyatakan, “Dalam semua kondisi yang parah, mulai dari kanker ke pengerasan pembuluh darah sampai kondisi autoimun seperti rematik, kemarahan yang dikekang menjadi faktor utama.” Ia juga menjadi penulis buku laris, When the Body Says No: The Cost of Hidden Stress (Ketika Tubuh berkata Tidak: Konsekuensi Stress tersembunyi), yang diterjemahkan ke dalam 9 bahasa. Budha menorehkan kata-kata bijak, “Holding on to anger is like grasping a hot coal with the intent of throwing it at someone else; you are the one who gets bunned.” (Terus memegang kemarahan itu seperti menggenggam sebuah bara panas dengan tujuan untuk melemparkannya kepada seseorang, namun anda sendiri yang terbakar hangus). Bila demikian, maka sudah saatnya lah hidup sehat dicapai dengan belajar mengampuni segala kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang lain terhadap kita.

Pengakuan yang kita ucapkan, tidaklah secara otomatis akan memperoleh pengampunan dari Bapa Sorgawi, bila kita juga menyimpan dendam dan kemarahan terhadap orang lain yang kita pikir telah menyusahkan kita. Dapatkah kita mengampuni orang yang telah melakukan kesalahan kepada kita? Sering kita tidak sadar, ketika kita mengakui segala kesalahan kita kepada Tuhan, kita masih membenci seseorang yang telah melukai hati kita. Bagaimana Tuhan mau mengampuni segala kesalahan kita bila kita tidak dapat mengampuni kesalahan orang lain? (“Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 15). Hati yang menyimpan segala kesalahan itulah yang sering menjadi berkat Tuhan tidak datang dalam hidup kita, bahkan kita menderita sakit penyakit yang membuat kita tidak berdaya.